Rabu, 24 Juni 2026

The Birth of John the Baptist


The Birth of John the Baptist

When it was time for Elizabeth to have her baby, she gave birth to a son. Her neighbors and relatives heard that the Lord had shown her great mercy, and they shared her joy. On the eighth day they came to circumcise the child, and they were going to name him after his father Zechariah, but his mother spoke up and said, “No! He is to be called John.”

They said to her, “There is no one among your relatives who has that name.”

Then they made signs to his father, to find out what he would like to name the child. He asked for a writing tablet, and to everyone’s astonishment he wrote, “His name is John.” Immediately his mouth was opened and his tongue set free, and he began to speak, praising God. All the neighbors were filled with awe, and throughout the hill country of Judea people were talking about all these things. Everyone who heard this wondered about it, asking, “What then is this child going to be?” For the Lord’s hand was with him.


Inilah Injil Suci menurut Lukas (1:57-66.80)
  
"Namanya adalah Yohanes."

Pada waktu itu, genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika para tetangga serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepada Elisabet, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu, dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya. Tetapi Elisabet, ibunya, berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada Zakharia untuk bertanya nama apa yang hendak ia berikan kepada anaknya itu. Zakharia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Dan mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulut Zakharia, dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. Semua yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia. Anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia kemudian tinggal di padang gurun sampai tiba harinya ia harus menampakkan diri kepada Israel.

(Demikianlah Sabda Tuhan)

SUMBER : RENUNGANPAGI.ID

Reflection :

Everyone who heard this wondered about it, asking, “What then is this child going to be?” For the Lord’s hand was with him.

If God has ordained a work, no human power can thwart it. His plans will unfold according to His timing and His will. Before Almighty God, human beings are not masters of His ways, but recipients of His grace, called to walk in the work He has prepared.


Sabtu, 20 Juni 2026

Seek first His kingdom and His righteousness

 

source : https://trustandobey.locals.com

Inilah Injil Suci menurut Matius (6:24-34)

    "Janganlah khawatir akan hari esok."

Dalam khotbah di bukit, berkatalah Yesus, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kalian tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. 

Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, apa yang hendak kalian makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, apa yang hendak kalian pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan, dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? 

Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai, dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, toh diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kalian jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kalian yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? 

Dan mengapakah kalian kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal. Namun Aku berkata kepadamu, Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. 

Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan esok dibunag ke dalam api, tidakkah Ia akan lebih lagi mendandani kalian, hai orang yang kurang percaya? 

Maka janganlah kalian kuatir dan berkata, ‘Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. 

Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu, bahwa kalian memerlukan semuanya itu. Maka carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kalian kuatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.

Matthew 6:24-34

Reflection:

So do not worry, saying, ‘What shall we eat?’ or ‘What shall we drink?’ or ‘What shall we wear?’  For the pagans run after all these things, and your heavenly Father knows that you need them.  But seek first his kingdom and his righteousness, and all these things will be given to you as well. 

Being free from worry about our daily needs and our lives requires a brave heart and strong faith. It is a challenge for every believer. Great blessings await those who overcome this challenge, yet only a few truly live in such trust.

God asks us to do something that seems simple: "Seek first His kingdom and His righteousness."

What are His Kingdom and His righteousness?

• His Kingdom is already at work among believers through the Holy Spirit and the transforming power of the Gospel.

• His righteousness is the character of those who belong to His Kingdom. It means living according to God's will, reflecting His holiness, justice, and love.

Are we ready to be free from worry? Let us seek first His Kingdom and His righteousness, trusting that God knows our needs and will faithfully provide for us.

Jumat, 19 Juni 2026

Treasures in Heaven

 

source :https://www.doulospusat.com

Inilah Injil Suci menurut Matius (6:19-23)  

    
"Di mana hartamu berada, di situ pula hatimu."
   
Dalam khotbah di bukit, berkatalah Yesus, "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. 


Treasures in Heaven

19 “Do not store up for yourselves treasures on earth, where moths and vermin destroy, and where thieves break in and steal. 20 But store up for yourselves treasures in heaven, where moths and vermin do not destroy, and where thieves do not break in and steal. 21 For where your treasure is, there your heart will be also.

22 “The eye is the lamp of the body. If your eyes are healthy,[a] your whole body will be full of light. 23 But if your eyes are unhealthy,[b] your whole body will be full of darkness. If then the light within you is darkness, how great is that darkness!

Reflection :

The eye is the light of the body. Through our eyes we can see the beauty of the world, the brightness of the sun, and many wonderful things. In the same way, our heart is like our spiritual eyes. It gives us light so that we can see God's goodness and the light from heaven.

A life that is focused only on worldly things becomes dark because the ways of the world often oppose God's ways. Our heart is a guard that helps us listen to God's voice.

When our heart is filled with worldly desires, it becomes dark because we no longer listen to God's Spirit. Then the darkness of the world becomes even darker within us. How great is that darkness.

Senin, 11 Mei 2026

"Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku".

 

sumber : https://emanhlw1.blogspot.com


Bacaan dari Kisah Para Rasul (16:11-15)

     
"Tuhan membuka hati Lidia, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus."
      
Setelah Paulus mendapat pesan dari Surga supaya menyeberang ke Makedonia, kami, Paulus dan Silas, bertolak dari Troas dan langsung berlayar ke Samotrake. Keesokan harinya tibalah kami di Neapolis; dan dari situ kami ke Filipi, kota pertama di bagian Makedonia ini, suatu kota perantauan orang Roma. Di kota itu kami tinggal beberapa hari. 

Pada hari Sabat kami keluar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ. Setelah duduk, kami berbicara kepada perempuan-perempuan yang berkumpul di situ. 

Salah seorang dari perempuan-perempuan itu, yang bernama Lidia, turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, seorang yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. 

Sesudah dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, Lidia mengajak kami, katanya, “Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.” Ia mendesak sampai kami menerimanya.
 
Mazmur Tanggapan
Ref. Tuhan berkenan kepada umat-Nya
Ayat. (Mzm 149:1-2.3-4.5-6a.9b)
1. Nyanyikanlah bagi Tuhan lagu yang baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh! Biarlah Israel bersukacita atas Penciptanya, biarlah Sion bersorak-sorai atas raja mereka.
2. Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab Tuhan berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang yang rendah hati dengan keselamatan.
3. Biarlah orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak-sorai di atas tempat tidur! Biarlah pujian pengagungan Allah ada dalam kerongkongan mereka, itulah semarak bagi orang yang dikasihi Allah.

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya
Ayat. (bdk. Yoh 15:26b.27b)
Roh Kebenaran akan bersaksi tentang Aku, sabda Tuhan; tetapi kamu juga harus bersaksi.
 
Inilah Injil Suci menurut Yohanes (15:26--16:4a)
    
"Roh kebenaran bersaksi tentang Yesus."
     
Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jikalau penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku. 

Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan; bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. 

Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya, kamu ingat bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.” 

Demikianlah Sabda Tuhan.

Renungan:

Pendahuluan

Ketika kita sedang berada dalam situasi yang sulit, ketika keadaan tidak menyenangkan, kadang kita bertanya,"Mengapa ini terjadi pada saya, Tuhan?" 

Renungan ini membahas bagaimana Tuhan sudah menyatakan sebelumnya kepada para muridNya, bagaimana situasi yaang amat sulit akan terjadi pada mereka.

Pemberitahuan Yesus Terhadap Para Rasul

"Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya, kamu ingat bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.” 

Kalau Tuhan Maha Baik, mengapa situasi yang sulit ini harus terjadi? Bahkan para murid sudah diberitahu oleh Tuhan Yesus,  bahwa mereka akan dikucilkan; bahwa akan datang saatnya setiap orang yang membunuh para rasul akan menyangka bahwa mereka berbuat bakti bagi Allah. 

Betapa situasi menjadi terbolak balik, dan itu  dihadapi oleh para rasul di tengah mereka mengemban tugas yang diamanatkan oleh Yesus:"Kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku. 

Murid-murid dalam Ketidakpastian

Apakah para murid menjadi galau atas segala yang diucapkan Yesus? Saya membayangkan situasi mereka, mungkin mereka jadi bingung atas segala perkataan Yesus ini. Mereka bertanya satu sama lain, apa sebenarnya maksud Guru. 

Dan detik-detik perpisahan dengan Yesus sudah semakin dekat. Yesus mulai berbicara bahwa Ia harus kembali kepada Bapa. Yesus sering sekali berbicara tentang hal-hal yang berat. 

Mereka mulai dihinggapi kecemasan dalam ketidakpastian, apa yang akan terjadi pada mereka bila Yesus sudah tidak bersama mereka? Dalam ketidakpastian mereka bertanya-tanya, apa sebenarnya maksud Sang Guru.
"Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku". Sebenarnya apa maksudMu, Tuhan?

Sebelum berpisah Yesus hanya menjanjikan satu hal yaitu ,"Jikalau penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.

Dalam ketidakpastian, para murid tidak jadi kecewa dan tidak menolak Yesus. Mereka tetap tinggal bersama Yesus.


Kita juga menghadapi Ketidakpastian

Kita juga sering sekali mengalami ketidakpastian. Kita bertanya-tanya saat kita mengalami kesulitan hidup. Seakan-akan Tuhan meninggalkan kita. Memikul beban hidup, mengalami penderitaan, terkena sakit, tertimpa musibah, membuat kita mulai menyangsikan Tuhan dan bertanya,"Mengapa ini terjadi pada saya? Apa maksudMu, Tuhan?"

Perkataan Tuhan Yesus kepada para muridnya  juga ditujukan kepada kita sebagai pengikutnya,"Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku".

Apakah kita juga bersikap seperti para murid, tidak kecewa dan tidak menolak Yesus? Tetap tinggal bersama Yesus walau dalam ketidakpastian?

Kesimpulan: Percaya pada Janji Tuhan

Para murid percaya pada Roh Penghibur yang dijanjikan Tuhan, walau mereka tidak tahu kapan Roh itu  akan datang.

Mereka percaya pada Tuhan, walau dalam kesulitan dan ketidakpastian. Apakah kita juga mampu bersikap seperti para murid tersebut? Percaya pada jTuhan walau dalam ketidakpastian? Tetap tinggal bersama Yesus? Percaya akan datangnya Roh Penghibur seperti yang dijanjikan Tuhan?

Para murid menjadi pedoman bagaimana semestinya kita bersikap di hadapan Tuhan. Hari demi hari dari bacaan harian kita akan tahu bagaimana hasil dari para murid yang tetap setia dan percaya pada Tuhan Yesus.


Senin, 04 Mei 2026

Kekuatan Iman: Bagaimana Keyakinan Menciptakan Keajaiban dalam Kehidupan

Renungan harian, 03 Mei 2026

Kekuatan Iman: Bagaimana Keyakinan Menciptakan Keajaiban dalam Kehidupan 

sumber : https://menarasumba.com

Pendahuluan

Iman sering dipandang sebagai sesuatu yang abstrak, namun iman sebenarnya memainkan peran yang sangat kuat dalam membentuk kehidupan sehari-hari. Tindakan sederhana berupa keyakinan dapat memengaruhi cara kita berpikir, merasa, dan bertindak. Renungan ini membahas bagaimana iman dan kepercayaan kepada Tuhan dapat membawa perubahan yang berarti, bahkan apa yang oleh banyak orang disebut sebagai “keajaiban.”

Iman sebagai Awal Mula Keajaiban

“Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.” (Yohanes 14:12)

Apakah Anda percaya bahwa setiap mukjizat dimulai dengan iman? Bila Anda benar-benar percaya, maka mukjizat terjadi  Keyakinan sering kali mendahului kenyataan. Iman adalah kemampuan untuk mempercayai sesuatu meskipun hal itu belum terlihat. Ketika kita benar-benar percaya, kita mulai bertindak secara berbeda—kita membawa harapan, keyakinan, dan rasa damai.

Hidup Seolah-olah Berkat Sudah Ada

Iman memungkinkan kita merasakan sukacita bahkan sebelum doa-doa kita dijawab.

Iman membuat kita dapat tersenyum seolah-olah mimpi-mimpi kita sudah terwujud.

Iman mendorong kita memberi dengan murah hati seolah-olah kelimpahan sudah mengalir ke dalam hidup kita.

Pola pikir ini sering disebut  sebagai “manifestasi” atau “sugesti positif.” Namun, pada intinya, iman  lebih dalam dari itu.

Iman yang Berakar pada Kepercayaan kepada Tuhan

Iman sejati bukanlah sekadar berpikir positif. Iman adalah kepercayaan yang mendalam kepada Tuhan—keyakinan bahwa Dia hadir, bekerja, dan membimbing hidup kita.

Ketika kita menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Tuhan, perspektif kita berubah. Kita tidak lagi dikendalikan oleh ketakutan atau ketidakpastian, melainkan diperkuat oleh harapan dan keyakinan.

Kesimpulan: Makna Sejati dari Beriman

Iman lebih dari sekadar kata-kata—ia adalah cara hidup. Iman adalah memilih untuk percaya sebelum melihat, bersukacita sebelum menerima, dan mempercayai bahkan di tengah ketidakpastian.

Pada akhirnya, iman bukan hanya tentang mengharapkan mukjizat, tetapi tentang membangun hubungan yang lebih dalam dengan Allah, di mana kepercayaan menjadi dasar dari segala yang kita lakukan.


Minggu, 03 Mei 2026

The Power of Faith: How Believing Creates Miraclesin Daily Life

 Daily Reflection, May 03,2026

The Power of Faith: How Believing Creates Miracles in 


Daily Life


Introduction

Faith is often seen as something abstract, yet it plays a powerful role in shaping our daily lives. A simple act of believing can influence how we think, feel, and act. This reflection explores how faith and trust in God can lead to meaningful change and even what many would call “miracles.”

Faith as the Beginning of Miracles

“Whoever believes in Me will do the works I have been doing, and they will do even greater things than these.” (John 14:12)

Do you believe that every miracle begins with faith?

Belief often comes before reality. It is the ability to trust in something even when it is not yet visible. When we truly believe, we begin to act differently—we carry hope, confidence, and a sense of peace.

Living as If Blessings Already Exist

Faith allows us to feel joy even before our prayers are answered.

We can smile as if our dreams have already come true.

We can give generously as if abundance is already flowing into our lives.

This mindset is sometimes described today as “manifestation” or “positive suggestion.” However, at its core, it is something deeper than that.\

Faith Rooted in Trust in God

True faith is not merely positive thinking. It is a deep trust in God—the belief that He is present, working, and guiding our lives.

When we place our trust fully in God, our perspective shifts. We are no longer controlled by fear or uncertainty, but strengthened by hope and conviction.

Conclusion: The True Meaning of Believing

Faith is more than words—it is a way of living.

It is choosing to believe before seeing, to rejoice before receiving, and to trust even in uncertainty.

In the end, faith is not just about expecting miracles, but about building a deeper relationship with God, where trust becomes the foundation of everything we do.

Kamis, 09 April 2026

 Bacaan dari Kisah Para Rasul (4:1-12)

    
"Keselamatan hanya ada di dalam Yesus."
        
Sekali peristiwa, sesudah menyembuhkan seorang lumpuh, Petrus dan Yohanes berbicara kepada orang banyak. Tiba-tiba mereka didatangi imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki. Mereka ini sangat marah, karena Petrus dan Yohanes mengajar orang banyak dan memberitakan bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati. Maka mereka ditangkap, lalu diserahkan ke dalam tahanan sampai keesokan harinya, karena hari telah malam. Tetapi di antara orang yang mendengar ajaran itu banyak yang menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki. Pada keesokan harinya pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan para ahli Taurat mengadakan sidang di Yerusalem dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dan Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar. Lalu Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang itu dan mulai diperiksa dengan pertanyaan ini: "Dengan kuasa manakah atau dalam nama siapakah kamu bertindak demikian itu?" Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus, "Hai pemimpin-pemimpin umat dan kaum tua-tua, jika sekarang kami harus diperiksa karena suatu kebajikan kepada seorang sakit, dan harus menerangkan dengan kuasa manakah orang itu disembuhkan, maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa semua itu kami lakukan dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi dibangkitkan Allah dari antara orang mati; karena Yesus itulah orang ini sekarang berdiri dengan sehat di depan kamu. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan, yaitu kamu sendiri, namun ia telah menjadi batu penjuru. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
   
Mazmur Tanggapan, do = bes, 2/4, PS 831
Ref. Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. 
Atau Alleluya
Atau Bersyukurlah kepada Tuhan, karna baiklah Dia
Ayat. (Mzm 118:1-2.4.22-24.25-27a; Ul: lih. 1)
1. Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Kekal abadi kasih setia-Nya. Biarlah Israel berkata, "Kekal abadi kasih setia-Nya!" Biarlah orang yang takwa pada Tuhan berkata, "Kekal abadi kasih setia-Nya!"
2. Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi pada pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorai dan bersukacita karenanya!
3. Ya Tuhan, berilah kiranya keselamatan! Ya Tuhan, berilah kiranya kemujuran! Diberkatilah dia yang datang dalam nama Tuhan! Kami memberkati kamu dari dalam rumah Tuhan. Tuhanlah Allah, Dia menerangi kita.

Bait Pengantar Injil, do = f, PS 959
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya
Ayat. (Mzm 118:24)
Inilah hari yang dijadikan Tuhan. Marilah kita bersorak-sorai dan bersukacita karenanya.

Inilah Injil Suci menurut Yohanes (21:1-14)
    
"Yesus mengambil roti dan memberikannya kepada para murid; demikian juga ikan."
      
Sesudah bangkit dari antara orang mati, Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias. Ia menampakkan diri sebagai berikut: Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid Yesus yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka, "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya, "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka, "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka, "Tidak ada!" Maka kata Yesus kepada mereka, "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya, dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus berkata kepada Petrus, "Itu Tuhan!" Ketika Petrus mendengar bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja; dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu. Ketika tiba di darat, mereka melihat ada api arang, dan di atasnya ada ikan serta roti. Kata Yesus kepada mereka, "Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu." Simon Petrus naik ke perahu, lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya; dan sungguh pun sebanyak itu ikannya, jala tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka, "Marilah dan sarapanlah!" Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya, "Siapakah Engkau," sebab mereka tahu bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka; demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.
Verbum Domini 
(Demikianlah Sabda Tuhan)